Tarif iklan teks blog tidak punya patokan tunggal, jadi banyak pemilik blog menebak angkanya. Akibatnya, ada yang menjual link terlalu murah dan ada yang memasang harga sampai pengiklan kabur. Langkah di bawah membantu kamu menghitung tarif dari data trafik sendiri, bukan dari perasaan.
1. Pisahkan dulu apa yang kamu jual
Iklan teks punya beberapa bentuk, dan masing-masing nilainya berbeda. Link di dalam artikel lama dibayar per bulan karena menempel permanen. Teks sponsor di badan artikel baru dibayar per tulisan. Sementara teks di sidebar dibayar berdasarkan tayangan halaman. Tetapkan dulu bentuk mana yang kamu tawarkan supaya harga tidak tercampur.
Untuk sidebar dan area yang tampil di setiap halaman, hitung dulu nilai per tayangannya. Cara menghitungnya sama seperti pendapatan iklan display biasa, dan bisa kamu pelajari di cara menghitung pendapatan blog dari iklan per 1000 kunjungan.
2. Ambil angka trafik tiga bulan terakhir
Buka data analytics dan catat tiga angka: total tayangan halaman per bulan, jumlah kunjungan unik, dan halaman yang paling banyak dibaca. Pakai rata-rata tiga bulan supaya musim ramai tidak membuat kamu salah menaikkan harga. Kalau trafik sedang turun, tarif berbasis tayangan akan terasa terlalu tinggi bagi pengiklan.
- Tayangan halaman per bulan: dasar untuk iklan yang tampil di banyak halaman.
- Kunjungan unik per bulan: dasar untuk iklan yang menempel di satu artikel.
- Halaman terpopuler: dasar untuk menetapkan harga berbeda per posisi.
3. Tentukan nilai per seribu tayangan
Mulai dari pendapatan iklan display yang sudah kamu terima. Kalau jaringan iklan membayar sekitar Rp20 ribu per seribu tayangan, iklan teks di posisi yang sama sebaiknya tidak lebih murah dari itu. Teks dan link biasanya bernilai lebih tinggi karena tidak bisa ditutup pembaca dan tahan lama. Naikkan 50 sampai 100 persen dari angka display sebagai titik awal.
Kalau belum pernah menerima pembayaran sama sekali, pakai tarif terendah jaringan iklan yang kamu ikuti sebagai lantai, lalu sesuaikan setelah tiga bulan data terkumpul.
4. Sesuaikan dengan niche dan niat pembaca
Blog keuangan pribadi dan bisnis biasanya punya nilai lebih tinggi daripada blog hiburan karena pembaca datang untuk mengambil keputusan. Pengiklan bersedia membayar lebih untuk audiens yang sedang mencari layanan atau produk. Sebaliknya, trafik dari media sosial yang singgah sebentar nilainya lebih rendah meski jumlahnya besar.
Perhatikan juga asal kunjungan. Trafik mesin pencari punya niat yang lebih jelas daripada trafik beranda. Jika kamu masih membangun trafik pencarian, tambah dulu volumenya lewat cara meningkatkan kunjungan blog dari mesin pencari sebelum menaikkan tarif.
5. Hitung harga per penempatan, bukan per kata
Pengiklan sering menanyakan harga per link atau per bulan. Susun tabel sederhana berisi tiga tingkat penempatan:
- Link di artikel lama: harga per bulan, dengan batas maksimal jumlah link per artikel.
- Teks sponsor di artikel baru: harga per tulisan, termasuk biaya penulisan.
- Blok teks di sidebar atau footer: harga per bulan berdasarkan tayangan halaman.
Batasi jumlah link di satu artikel. Menumpuk lima link di satu tulisan membuat halaman terasa seperti direktori dan menurunkan pengalaman pembaca. Dua link per artikel biasanya sudah cukup.
6. Sisakan ruang negosiasi
Pasang harga tawar sekitar 20 persen di atas angka yang benar-benar kamu inginkan. Pengiklan hampir selalu meminta diskon, dan kamu perlu ruang untuk memberi potongan tanpa turun di bawah nilai minimum. Tetapkan juga harga minimum yang tidak akan kamu lewati, berapa pun permintaan pengiklan.
Jika pengiklan menawarkan paket beberapa bulan sekaligus, potongan wajar diberikan untuk kepastian pendapatan. Hitung dampaknya ke arus kas usaha kecil dengan pendekatan yang sama seperti saat membaca cara menghitung biaya merchant untuk usaha kecil, supaya potongan yang kamu beri tidak menggerus margin.
7. Periksa penawaran sebelum menyetujui
Harga cocok belum tentu penawaran layak diambil. Periksa jenis produk yang diiklankan, apakah situs tujuan memenuhi syarat, dan apakah pengiklan meminta perubahan di luar kesepakatan. Permintaan menaruh link di semua artikel sekaligus dengan harga satu artikel perlu ditolak.
Beberapa hal yang perlu dicek sebelum tanda tangan ada di cara evaluasi penawaran iklan blog sebelum diterima. Saring juga pengiklan yang meminta tautan dengan kata kunci yang tidak nyambung dengan isi artikel.
8. Tinjau tarif setiap kuartal
Catat setiap penawaran yang masuk: tanggal, bentuk iklan, harga, dan apakah pengiklan memperpanjang. Setelah tiga bulan, bandingkan jumlah permintaan dengan tarif yang berlaku. Kalau hampir semua penawaran langsung diterima tanpa negosiasi, tarifmu mungkin terlalu rendah. Kalau banyak yang kabur setelah mendengar harga, turunkan atau perbaiki cara menyampaikan nilai trafik.
Kenaikan tarif sebaiknya mengikuti kenaikan trafik atau perubahan komposisi audiens, bukan mengikuti keinginan sesaat.
Menetapkan tarif iklan teks berjalan dari data trafik sendiri, bukan dari angka yang beredar di forum. Mulai dari nilai display, naikkan sesuai bentuk penempatan, sisakan ruang negosiasi, lalu tinjau tiap kuartal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa tarif wajar untuk link di artikel lama?
Tidak ada angka tunggal. Pakai nilai per seribu tayangan dari iklan display sebagai lantai, lalu naikkan 50 sampai 100 persen karena link bertahan lebih lama dan tidak bisa ditutup pembaca. Sesuaikan dengan niche dan asal trafik.
Apakah harga boleh berbeda untuk setiap artikel?
Boleh, dan sebaiknya begitu. Artikel dengan kunjungan tinggi atau pembaca yang siap membeli layanan layak dihargai lebih tinggi daripada artikel yang jarang dibuka.
Bagaimana kalau pengiklan minta harga jauh di bawah tarif?
Tetapkan harga minimum sejak awal dan tahan angka itu. Menurunkan tarif terlalu jauh untuk satu pengiklan membuat pengiklan berikutnya memakai patokan yang sama.